Lompat ke isi utama

Agenda

Ketika Demokrasi Menjadi Cerita: Membaca Pendidikan Politik Melalui “Di Balik Kotak Suara”

Cover buku pak ulum

Oleh; Feby Fratiwi, SH., M.H.

Ada banyak cara untuk membicarakan demokrasi. Kita bisa membicarakannya melalui ruang-ruang akademik, diskusi publik, regulasi, seminar, atau bahkan laporan pengawasan pemilu. Namun, ada satu cara yang sering kali justru lebih dekat dengan manusia: cerita.

Novel Di Balik Kotak Suara karya Badrul Munir hadir dengan menawarkan cara yang berbeda dalam memperkenalkan dunia demokrasi dan kepemiluan kepada pembaca. Ia tidak datang sebagai buku teks tentang pemilu, melainkan sebagai cerita tentang manusia yang berada di tengah pertarungan antara idealisme, cinta, persahabatan, tekanan, dan pilihan untuk tetap mempertahankan integritas.

Bagi saya yang bekerja di dunia pengawasan pemilu, kehadiran novel ini menjadi sesuatu yang menarik sekaligus patut diapresiasi. Sebab, pendidikan politik selama ini sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang serius, penuh istilah hukum, dan hanya dapat dipahami oleh kalangan tertentu. Di Balik Kotak Suara mencoba mematahkan batas tersebut melalui bahasa sastra.

Pembaca diajak masuk ke dunia pengawasan pemilu bukan melalui pasal-pasal, melainkan melalui kehidupan para tokohnya. Damar, Sarah, Bimbim, dan tokoh-tokoh lainnya menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk melihat bahwa demokrasi bukan hanya persoalan angka, suara, dan hasil pemilu. Di balik semua itu ada manusia yang harus berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit.

Di situlah kekuatan novel ini.

Politik tidak hanya digambarkan sebagai perebutan kekuasaan, tetapi sebagai ruang tempat manusia diuji. Ketika idealisme berhadapan dengan kepentingan, ketika integritas berhadapan dengan tekanan, dan ketika seseorang harus memilih antara kenyamanan pribadi atau sesuatu yang diyakininya benar. Novel ini juga menarik karena mempertemukan dua dunia yang selama ini seolah berjalan sendiri-sendiri: politik dan sastra.

Politik berbicara tentang kekuasaan, aturan, suara rakyat, dan bagaimana keputusan publik dibentuk. Sementara sastra berbicara tentang manusia, perasaan, konflik batin, dan pengalaman hidup. Di Balik Kotak Suara mempertemukan keduanya dalam sebuah cerita yang membuat persoalan demokrasi terasa lebih dekat.

Bagi generasi muda, pendekatan semacam ini penting.

Gen Z tidak selalu membutuhkan ceramah panjang untuk memahami persoalan politik. Mereka membutuhkan cerita yang dekat dengan kehidupan, karakter yang manusiawi, konflik yang relevan, dan bahasa yang tidak menggurui. Melalui sastra, isu kepemiluan dapat hadir dengan cara yang lebih ringan tanpa kehilangan substansi. Karena itu, saya melihat Di Balik Kotak Suara bukan sekadar sebagai sebuah novel bertema pemilu. Ia dapat dibaca sebagai salah satu bentuk pendidikan politik melalui kebudayaan. Yang menarik, pendidikan politik dalam novel ini tidak disampaikan secara doktriner. Pembaca tidak dipaksa untuk menerima sebuah kesimpulan. Sebaliknya, pembaca diajak mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya, menyaksikan pilihan mereka, merasakan tekanan yang mereka hadapi, kemudian mengambil makna dari perjalanan tersebut.

Dalam konteks pengawasan pemilu, pendekatan ini memiliki arti penting. Demokrasi tidak cukup hanya dijaga melalui lembaga dan regulasi. Demokrasi juga membutuhkan budaya. Budaya untuk membaca, berdiskusi, berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan berani mempertahankan prinsip. Dan budaya itu salah satunya dapat tumbuh melalui literasi. Novel ini, dengan segala kelebihan dan ruang interpretasinya, memberikan kontribusi pada upaya membangun budaya literasi pemilu. Ia membawa isu kepemiluan keluar dari ruang-ruang formal dan memasukkannya ke ruang yang lebih luas: ruang pembaca, ruang keluarga, ruang komunitas, ruang anak muda, dan ruang kebudayaan.

Pada akhirnya, Di Balik Kotak Suara mengingatkan kita bahwa demokrasi bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak. Demokrasi juga tentang bagaimana kita memperlakukan suara yang berbeda. Tentang keberanian mempertahankan integritas ketika ada kesempatan untuk berpaling. Tentang pilihan untuk tetap jujur ketika tidak ada yang sedang melihat.

Dan mungkin, di situlah sastra menemukan perannya.

Sastra tidak selalu harus mengajarkan politik secara langsung. Kadang-kadang, cukup dengan membuat seseorang berhenti sejenak, berpikir, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: jika berada di posisi Damar, apa yang akan saya lakukan? Jika sebuah novel mampu melahirkan pertanyaan semacam itu, maka ia telah melakukan lebih dari sekadar bercerita. Ia telah ikut merawat kesadaran. Dan Di Balik Kotak Suara adalah salah satu cerita yang mencoba melakukan itu.

opini feby
Agenda